This is about snow,rain and friendship

aaa

An :

Mau disebut ff sepertinya bukan karena ini hanya kisah antara sahabat.well…ceritanya jadi begitu saja saat saya sedang menatap butiran air yang jatuh di langit yang membasahi terpal?LOL.

Pokoknya ini hanya cerita lanjutan dari first snow yang tentu saja terinspirasi dari cerita sini 😀

.

 

.

 

.

Summary :

“Bukankah kau menyukai salju?”

“Namanya Bergeron findesen process” “Dan kau tidak menyukai hujan aku tahu itu”

 

 

Hyonie menatap butiran air yang jatuh membasahi wajah mulusnya—menengadah saat…

 

“Ya!! Apa kau bodoh,huh?”

 

Seseorang yang berada tepat di belakangnya menarik lengan dan juga membawanya berlari dan tentu saja berteduh dari kucuran air yang semakin lama semakin lebat—oh! Itu hujan ternyata.

 

Hyonie hanya terkekeh pada orang yang sudah membawanya berteduh itu—tentu saja siapa lagi kalau bukan sahabatnya Kim Riyeon.

 

“Sejak kapan kau mulai mengagumi air yang turun dari langit aka hujan itu Hyonie-ya?”

 

“Apa tidak boleh?”

 

Riyeon hanya memutar bola matanya.

 

Hyonie kembali terkekeh “Oh! Come on Riyeon-ah,aku hanya mengikutimu,itu saja”

 

“Huh?maksudmu?” Riyeon menaikkan alis bingung.

 

“Menyukai sesuatu yang turun dari langit” jawab Hyonie menyeringai,tangannya menggapai tetesan air yang terpantul di ujung genting tempat mereka berteduh—itu sebuah pemberhentian bus lebih tepatnya.

 

Riyeon hanya menatap Hyonie dengan penuh tanya.Sungguh ia tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin dikatakan sahabatnya ini.

 

“Bukankah kau menyukai salju?” Ucap Hyonie tanpa menoleh,tangannya masih asik bermain dengan kucuran air.

 

“Huh?”

 

Riyeon kembali tidak mengerti dan berakhir seperti orang bego saat ini.Menatap sahabatnya dengan mata mengerjap dan mulut yang sedikit terbuka.

 

Hyonie menoleh dan hanya terkikik geli melihat ekpresi Riyeon.

 

Wanita yang sekarang sudah mengecat kembali rambutnya menjadi hitam itu (meski pada kenyataannya warna rambut alaminya itu keluar lebih dulu sebelum warna cat rambutnya benar-benar pudar)tersenyum lembut dan berjalan ke arah salah satu sahabat terbaiknya itu.

 

“Apa kau ingat,2 tahun yang lalu saat aku menunggumu di depan kampusmu?”

 

Riyeon masih belum bereaksi.Wanita dengan cardigan pink itu hanya menaikkan alis menatap sahabatnya yang kini sudah berada di depannya,mengerjapkan matanya seraya tersenyum lebar.

 

“Masih ingat saat kita akan jalan-jalan dihari itu,dan itu adalah hari terberatmu,hari dimana kau harus saling kejar-kejaran dengan dosen TA mu”

 

“Hari itu aku menunggumu di depan gerbang dan itu adalah hari yang bersalju.Kau tahu berapa lama aku menunggumu hingga tubuhku rasanya membeku.Dan…setelah kau keluar kau malah menatap langit sore itu,menengadah menatap butiran salju yang turun,mengulurkan tanganmu mencoba menangkap butiran salju tanpa peduli bahwa aku sahabatmu sudah hampir beku menunggumu”

 

 

“Oh!! Jangan lupakan tentang proses terbentuknya salju dari istilah yang kau sebut dengan bergeron findesen…” Hyonie menengadah tampak berpikir “Uh…aku lupa apa nama prosesnya” lanjutnya dengan kedua alis yang saling bertemu.

 

“Bergeron findesen process” ucap Riyeon membenarkan “Dan kau tidak menyukai hujan aku tahu itu” lanjutnya seraya menatap malas sahabatnya.

 

“Nah…itu dia,setidaknya aku mencoba menyukai hujan” Hyonie terkekeh seraya menjentikkan jarinya.

 

“Lalu,apa hubungannya saat kau mengatakan bahwa kau juga menyukai…hujan?”

 

Hyonie hanya terkekeh dan hal paling gila yang baru pernah dilakukannya saat hujan adalah ia menarik sahabatnya itu berlari menerobos hujan(itu memang gila) dan entah apa yang merasuki wanita itu saat ini Riyeon tidak mengerti dan tidak ingin mengerti.

 

“Kita mau kemana?” Tanya Riyeon,suaranya hampir tenggelam karena hujan lebat yang mengguyur hari itu.Tubuhnya sudah basah kuyup dan terima kasih pada Hyonie yang sudah menyeretnya berlari ditengah hujan lebat ini.

 

“Kita ke Mouse Rabbit Café,hanya satu blok dari sini” ucapnya setengah berteriak “Kau lihat bangunan putih di seberang jalan sana,kita hanya masuk di gang di samping bangunan itu sedikit maka kita akan tiba di Café” lanjutnya dengan wajah yang sudah basah oleh air hujan dan jangan lupakan bajunya yang bernasib sama dengan Riyeon.

 

Riyeon tidak bersuara lagi,hanya ikut berlari dibelakang sahabatnya,matanya sesekali melihat sekeliling dan ia baru saja sadar “Oh! Ini memang jalan ke Café pacar sahabatnya” gumamnya dalam hati—memutar ke dua bola matanya saat menyadari tidak ada siapapun dijalan.Lagipula orang gila mana yang mau menerobos air hujan selebat ini jika bukan dia dan sahabatnya.

 

Riyeon mengerjap saat mendengar suara sahabatnya.

 

“Nah…itu dia,ayo masuk.Sepertinya tidak ada orang didalam”

 

Riyeon menghentikan langkahnya,mendongak menatap bangunan dihadapannya.Bangunan lantai 2 dengan warna dominan putih dan sebuah papan nama bertuliskan ‘Mouse Rabbit coffee and Café’

 

Tanpa menunggu lagi,tangan Riyeon di tarik masuk ke dalam Café dan Riyeon bersyukur setidaknya tidak ada siapapun disana saat ini—selain dua wanita gila yang menerobos hujan.

 

Tidak bukan Riyeon yang gila tapi sahabatnya itu tentu saja si Hyonie wanita aneh.

 

 

 

-oo-

 

 

 

“Huachi!!!”

 

Itu suara Hyonie yang tengah bersin hebat sejak tadi.Wanita itu demam sesaat setelah mereka menginjakkan kaki di dalam Mobit Café.

 

Sekarang mereka berdua berada di salah satu ruangan khusus dimana hanya keluarga dan relasi penting Yesung saja yang boleh masuk.

 

Riyeon dan Hyonie sudah mengganti pakaiannya dengan baju bersih—meski itu baju salah satu karyawan Café,ia tidak keberatan saat wanita yang lebih muda darinya itu meminjamkannya baju.Ia juga berjanji akan mengembalikan baju itu nanti.Dan…

 

“Huachiii!!!”

 

Suara bersih itu terdengar lagi,membuat Riyeon yang tengah melamun sedikit terkejut.Menoleh ke sisi kanan ruangan dimana sahabatnya itu tengah menggigil dengan selimut dan juga sebuah kompres di atas kepala.

 

Menghela nafas,Riyeon menyodorkan segela susu hangat “Bukankah kau orang yang tidak pernah bisa kehujanan atau untuk lebih jelasnya sama sekali tidak bisa kehujanan” ucap Riyeon setengah menyindir.

 

Wanita dengan selimut yang membungkus tubuh dihadapannya hanya mendengus.

 

“Oh!! Ayolah,aku sudah puas dengan segala macam omelan dan petuah dari kekasihku tadi,sekarang kau juga ikut-ikutan”

 

Riyeon hanya memutar bola matanya jengah “Kau memang pantas mendapatkannya kau tahu itu” ucapnya menatap sahabatnya tajam dengan tangan yang terlipat di depan dada.

 

“Aku hanya ingin main-main dan ingin tahu sekebal apa imun tubuhku” ucap Hyonie hampir seperti sebuah bisikan karena dia menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut.

 

“Dan selamat karena ternyata sistim imun tubuhmu tidak berubah sama sekali,kau langsung sakit sesaat setelah kau mengganti pakaianmu.Kau tidak hanya masuk angin tapi kau juga demam,oh jangan lupakan flu sebagai penyertanya”

 

Hyonie hanya mencibir dan Riyeon tahu kalau wanita itu tengah mencibir saat ini di balik selimut tebal berwarna putih itu.

 

Dengan satu gerakan cepat Riyeon menyingkap selimut sahabatnya,menatapnya tajam “Kau itu bukan gadis remaja lagi Hyonie-ya.Dan apa kau tahu hanya kita orang gila,tidak kau yang gila karena menyeretku berlarian di tengah hujan lebat dimana orang-orang lebih memilih berteduh.Dan lihatlah dirimu…” Riyeon menghela nafas.Dengan kasar kembali menyelimuti sahabatnya dengan selimut karena seriously!! Ia tetap tidak tega melihat sahabatnya itu menggigil dengan kedua pipi memerah karena demam.

 

 

“Mian” ucap Hyonie pelan.

 

“Sudahlah,sebaiknya aku keluar dan meminta Yesung menemanimu disini,karena kalau aku berlama-lama disini aku akan kembali marah denganmu jika mengingat kejadian tadi”

 

Riyeon berdiri dan keluar ruangan,meninggalkan Hyonie yang saat ini menatapnya dengan perasaan bersalah.

 

 

-oo-

 

 

Riyeon melipat ke dua tangannya di depan dada,berdiri di balik pintu kaca yang berada di ruang ‘smoking area’ menatap butiran air yang jatuh menghempas di pintu kaca.Hujan masih sangat lebat dan sepertinya tidak ada tanda-tanda akan segera reda.

 

Wanita dengan sweet shirt berbahan wol berwarna hitam itu masih sibuk dengan pikirannya hingga sebuah dering ponsel membuyarkan lamunannya—itu ponselnya yang sejak tadi ia genggam.

 

Ada nama Hanyeon di layarnya.

 

“Ne,Hanyeon-ah” ucapnya seraya menaruh smartphone itu di telinga kanannya.

 

“Mianhe Riyeon-ah,sepertinya aku tidak bisa ikut acara kita hari ini,karena sepertinya hujan sama sekali tidak berniat untuk berhenti”

 

Riyeon menengadah melalui pintu kaca,menghela nafas karena sepertinya ia akan berada di Café ini lebih lama lagi saat mendapati air hujan yang sama sekali belum mereda sejak ia dan Hyonie tiba disini.

 

“Hhuumm…tidak apa-apa,kami juga tidak bisa kemana-mana”

 

“Dimana kalian sekarang?dan apa Hyonie bersamamu?”

 

“Kami berada di Mouse Rabbit Café,dan Hyonie demam karena wanita gila itu membawaku menerobos hujan”

 

Riyeon bisa mendengar nada terkejut diujung telpon sana.Ia yakin sahabatnya yang lain itu terkejut juga penasaran.

 

“Kenapa bisa?maksudku bukankah Hyonie bukan tipe orang yang tahan akan air hujan?”

 

Menghela nafas “Nanti ku ceritakan jika kita bertemu lagi”

 

“Arraseo,katakan pada Hyonie semoga cepat sembuh”

 

“Ne”

 

 

Riyeon mengakhiri obrolannya dengan Hanyeon,kembali menatap air hujan yang terpantul di pintu dengan ke dua tangan yang kembali ia lipat di depan dada.Pikirannya melayang pada kejadian 2 tahun yang lalu.

 

 

.

 

.

 

 

 

Hari itu,di hari yang bersalju,ia meminta sahabatnya Hyonie untuk menemaninya makan karena sebulan terakhir berkutat dengan proposal yang bahkan belum ada titik terang untuk kelar itu membuatnya jenuh dan akhirnya ia memutuskan untuk memanggil salah satu sahabatnya.

 

Riyeon mengenakan coat putih gading(sebenarnya ia lupa memiliki janji) dan baru keluar satu jam kemudian saat sahabatnya dengan coat pink itu memarahinya di telpon dan ia bahkan menghiraukan sahabatnya itu saat mereka bertemu di depan pintu gerbang kampusnya,membiarkan sahabatnya itu terus mengoceh saat ia dengan sangat bahagia mengulurkan tangannya mencoba mencapai butiran salju yang turun.

 

“Bergeron findesen process,absolutely” gumamnya.

 

Menyeringai pada sahabatnya yang mengeluh tentang ‘sudah berapa lama dia menunggu.Dan badannya hampir beku,bla bla’ membuat keinginan awalnya untuk memakan sesuatu yang hangat tadi saat mereka janjian untuk bertemu itu hilang di telan badai salju saat mata sipitnya menangkap sebuah kedai patbingsu di seberang kampusnya.

 

Menghiraukan sahabatnya yang terus mengoceh itu,Riyeon menarik paksa lengan sahabatnya memasuki kedai patbingsu dan memaksa sahabatnya itu memakan makanan yang seharusnya di makan saat musim panas itu,lagi-lagi menghiraukan tatapan tajam sang sahabat saat pesanan mereka datang.

 

 

.

 

.

 

 

Riyeon menghela nafas lagi dengan mata yang sama sekali belum beralih dari menatap tetesan air hujan yang membasahi pintu kaca dihadapannya.

 

Tersenyum kecil.Ia sadar Hyonie memang selalu mengeluh dan selalu protes jika itu tidak sesuai dengan keinginannya,tapi dia selalu mendukung Riyeon maupun Hanyeon,asal dua sahabatnya bisa tersenyum sepertinya itu cukup baginya.

 

Menengadah menatap langit-langit Riyeon ingat pertama kali bertemu Hyonie.Saat itu adalah hari pertama mereka masuk High school,ia dan Hyonie satu grup saat itu(siapa yang menyangka ternyata mereka juga satu sekolah yang sama di junior high school).

Karena arah rumah mereka yang sama,mereka jadi sering pulang bersama dan berangkat bersama sejak hari itu.

 

Riyeon adalah seorang anak remaja dengan rambut yang menyerupai seperti anak laki-laki saat itu(itu karena terlalu pendek dan memang tidak ada sisi feminimnya sama sekali)dan Hyonie terlihat seperti anak gadis pada umumnya dengan rambut panjang sebahu.

 

Mereka sama-sama sosok yang jarang bicara satu sama lain,tapi sejak mengenal satu sama lain entah kenapa mereka merasa cocok dan mulai berteman sejak saat itu.

 

Hyonie dan Riyeon dekat selama satu minggu terakhir itu.Mereka mungkin tidak satu kelas tapi entah siapa yang memulai lebih dulu setiap jam pulang atau berangkat sekeolah mereka akan saling menunggu satu sama lain.

 

 

Bulan berganti dan siapa yang menyangka mereka bahkan dekat dengan gadis lainnya.Dia berasal di kelas yang sama dengan Hyonie,namanya Hanyeon.

 

 

Awalnya Hanyeon sering mengajak Hyonie ke kelas dimana ternyata itu adalah kelas Riyeon,bukan untuk menemui Riyeon karena Hanyeon juga belum mengenal Riyeon saat itu.Hanyeon hanya ingin menemui salah satu temannya yang satu kelas dengan Riyeon.

 

Kang Hyemi adalah salah satu teman Hanyeon.

 

Orang bilang persahabatan itu terjalin tanpa kau tahu kapan itu dimulai.Kau tidak akan pernah ingat atau kapan tepatnya kalian jadi mulai akrab satu sama lain hingga sebuah kata ‘Persahabatan’ itu melekat pada diri dan teman kalian. Itulah yang terjadi antara Hyonie,Hanyeon dan Riyeon.Karena sebuah ketidaksengajaan mereka bertemu dan berteman.Mereka bahkan tertawa saat tahu bahwa mereka berasal dari sekolah Junior High School yang sama dan tidak saling mengenal selama 3 tahun mereka sekolah di Junior High School.

 

 

 

.

 

 

.

 

 

 

“Riyeon-ssi”

 

Riyeon mengerjap sekali saat mendengar seseorang memanggil namanya.Membuat lamunannya tentang awal persahabatannya dengan Hyonie dan Hanyeon hilang begitu saja.

 

Disana,3 langkah darinya seorang pria dengan t-shirt coklat tersenyum padanya dengan sebuah gelas kopi di tangannya—itu Yesung tentu saja siapa lagi?

 

Yesung menyerahkan latte hangat pada Riyeon.Pria itu hanya tersenyum padanya.

 

“Apa Hyonie sudah baikan?” Tanya Riyeon memulai permbicaraan.

 

“Baru saja tertidur setelah minum obat”

 

Riyeon mengangguk.

 

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

 

Hanyeon mendongak dari lattenya “Ah…hanya sedikit mengenang masa lalu bersama Hyonie dan juga Hanyeon” ucapnya.

 

Yesung menganggukkan kepala “Ku dengar kalian sudah berteman sejak High School”

 

Riyeon mengangguk.

 

“Bisa kulihat,karena aku akan selalu menjadi nomor 3”

 

Riyeon menaikkan alis “huh?”

 

Yesung hanya terkekeh “Kau tahu,yang pertama bagi Hyonie adalah ayah dan adiknya,lalu ke dua sahabatnya,dan…aku” ucap Yesung menaikkan bahunya.

 

Riyeon tertawa mendengar penuturan kekasih sahabatnya ini “Aku tidak tahu kalau aku dan Hanyeon akan berada di tempat ke dua dan mengalahkanmu Yesung-ssi.Dan…ku rasa itu sepadan mengingat sudah berapa lama kami berteman”

 

“Gomawo Riyeon-ssi”

 

“Eh?”

 

“Karena sudah menjadi sahabatnya.Sudah mau mendengar segala keluh kesahnya.Untuk selalu mendukungnya apapun yang terjadi padanya”ucap Yesung tulus.

 

“Eii…kau tidak perlu berlebihan seperti itu Yesung-ssi,bukankah wajar seorang sahabat sejati itu harus selalu ada untuk sahabatnya”

 

“Yeah…kau benar,tentu saja.Dan—”

 

“—nuna”

 

Ucapan Yesung terhenti saat melihat seorang pria yang saat ini berdiri tidak jauh dari tangga.Pria dengan hoodie abu-abu itu mempunyai wajah yang mirip dengan Riyeon.

 

Riyeon menoleh”Oh! Kau sudah datang” ucapnya seraya berdiri dan menghapiri pria dengan hoodie abu-abu itu.

 

“Oh! Yesung-ssi,ini adalah adik lelakiku namanya Kim Jin Wook”

 

“Dan Jin Wook-ah,ini adalah…tentu saja kau kenal dia,dia Yesung dan juga kekasih Hyonie nuna”

 

Pria dengan hoodie abu-abu itu membungkuk dalam pada Yesung.

 

“Kita pulang sekarang?” Tanya Jin Wook sesaat setelah ia memperkenalkan dirinya pada Yesung.

 

“Eoh!kau tunggu diluar aku mengambil baju dan tas dulu didalam” jawab Hanyeon.

 

“Kau akan pulang sekarang?” Tanya Yesung.

 

Riyeon mengangguk “Iya”

 

“Tapi…”

 

“Aku tahu hujan memang belum berhenti,tapi aku harus ke butik lagi karena ada beberapa pekerjaan harus ku kerjakan”

 

Yesung hanya menghela nafas”Baiklah”

 

Riyeon tersenyum sekilas sebelum akhirnya berbalik meninggalkan adik dan juga kekasih sahabatnya.

 

 

-oo-

 

 

“Aku pamit Yesung-ssi”

 

Riyeon membungkukkan badan dan di balas dengan gerakan yang sama oleh Yesung.

 

“Hati-hati di jalan”

 

Riyeon mengangguk.

 

“Ah…aku akan mengembalikan ini nanti,katakan pada salah satu karyawanmu aku sangat berterima kasih karena dia mau meminjamkan baju padaku” ucap Riyeon sebelum berpaling dan memasuki mobil namun mengurungkannya dan kembali berbalik menghadap Yesung “Oh!!setelah Hyonie bangun kau harus segera mengantarnya pulang.Dan bilang padanya…” Riyeon berdehem sekilas “Kau itu tidak menyukai hujan jadi berhentilah berpikir untuk bermain di tengah hujan atau hujan-hujanan,karena kau tipe orang yang mudah sakit meski itu hanya hujan gerimis.Dan…jangan lupa katakan padanya untuk minum banyak air hangat dan istirahat yang banyak”

 

Riyeon menyeringai setelah menyelesaikan kalimatnya,ia benar-benar masuk mobil kali ini meninggalkan Yesung yang melambaikan tangan padanya dibelakang sana.

 

“For A Best Friend

Through tears and fights,

Through smiles, I knew everything

Would be alright,

Through love and hate,

Through betrayal and debate,

For you I would always have faith,

Being your sister as well as your

Best friend i knew

This friendship wouldn’t end

By your side I would always stand

And you’ll stand by mine too,

Because that’s what best friend do,

So no matter what happens with us

In life,

Through all of the wrong

And all of the right,

I’m here for you to be a best friend that’s true,

Cause I love you and that’s what

Best friend do”

END

 

 

Untuk kedua sahabatku Hanyeon dan Riyeon I love u all *hug*

 

Last sorry for typo kekeke

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s