Falling in love in one time and than–Hurt

ccc

Title : Falling in love one time and than–hurt?

Author : tutimutz

Cast :

  • Kim Minjung(OC)
  • Park Hye Joo
  • Kim Junsu (Xiah Junsu ‘JYJ’)
  • Park Yoochun ‘JYJ’
  • Shim Changmin

Length : One Shot

Genre : Romance maybe

Summary :

Pernahkah kau merasa jatuh cinta,merasa sudah merasa di atas awan kebahagian namun dengan kejam kau terhempas ke bawah–sakit?

Happy Reading ^^

.

 

.

 

.

Namanya Kang Minjung,berusia 25 tahun dengan tinggi 155 cm,bermata bulan sabit–jika tersenyum,rambut coklat sebahu dan agak bergelombang,kuliah di jurusan Meteorologi di Universitas Seoul.

Mahasiswi  tingkat akhir program strata satu,pintar–sedikit pendiam itu sekarang sedang aktif mengerjakan beberapa tugas di salah satu kantor pusat Badan Cuaca Nasional Seoul.

-oo-

Pagi-pagi sekali Kang Minjung–gadis cuaca(panggilan sahabatnya)sudah siap dengan blouse putih bermotif bunga dan jeans berwarna navi terlihat sudah berjalan di sekitar jalanan Seoul.

Udara pagi musim gugur terasa segar di pagi hari.Minjung berjalan sambil sesekali melihat pohon-pohon maple yang daunnya mulai menguning beberapa bahkan sudah jatuh ke tanah.

Menarik blazernya,Minjung berdiri di salah satu pemberhentian bus,sesekali memainkan ponsel seraya menunggu bus yang akan membawanya ke kantor pusat Badan Cuaca Nasional Seoul.

-oo-

Kang Minjung tersenyum menatap gedung megah berwarna biru di hadapannya.Merapikan blazer dan dan tas selempang dengan percaya diri memasuki gedung yang sudah sangat lama ingin di kunjunginya itu.

“Kang Minjung-ssi?” panggil seorang pria.

Minjung menoleh dan tersenyum,membungkuk “Annyeong haseyo Sunbae” sapanya tampak bersemangat.

Pria yang di panggil Minjung Sunbae itu hanya mengangguk “Apa kau siap?” tanyanya.

Minjung mengangguk semangat “Tentu saja,aku sudah lama ingin ke sini,jadi…mana mungkin aku belum siap sama sekali”

Pria dihadapan  Minjung itu hanya tertawa senang melihat semangat yang di miliki Minjung “Kau bersemangat sekali,huh”

Minjung hanya menyengir seraya mengangkat ke dua bahunya “Anda tahu,aku akan menjadi ahli cuaca yang hebat suatu hari nanti” ucapnya seraya terkekeh kecil.

“Baiklah,ayo kita masuk”ucap pria itu,berjalan lebih dulu di hadapan Minjung memasuki sebuah lift “Ku harap kau mempersiapkan hatimu karena di dalam sana sangat keren” lanjutnya tertawa pelan sebelum akhirnya menutup pintu lift.

-oo-

Disinilah Minjung berdiri,manatap kagum sebuah ruangan besar dimana di situ terdapat begitu banyak alat-alat canggih percuacaan.Dengan mulut yang selalu mendecak kagum Minjung terus mengikuti langkah pria yang ia panggil Sunbae itu masuk ke dalam ruangan.

Di depannya Minjung dapat melihat sebuah layar besar yang menunjukkan cuaca,kelembapan dan suhu tiap daerah yang ada di Korea.

Minjung masih sibuk mengagumi layar besar itu dengan mata berbinar–kagum saat sebuah suara harus membuatnya rela memutar kepala kearah suara.

Minjung menoleh–baru sadar–disini semuanya pria–tidak ada wanita?Mengerjap sekali dua kali,Minjung akhirnya tersenyum manis,membungkuk dalam pada semua Sunbae yang bekerja disana.

“Kang Minjung imnida,mohon bantuannya untuk satu  minggu ke depan”ucapnya.

Semua pria dalam ruangan itu bertepuk tangan “Selamat datang Minjung-ssi,maaf kalau disini semuanya para pria membosankan” ucap salah satu dari mereka bercanda.

Minjung menggeleng kuat”Anio,gwenchana”ucapnya nyengir lebar menatap satu persatu para pria di situ.

“Baiklah,kau bisa memulainya besok” ucap pria yang tadi membawanya masuk “Sekarang aku akan membawamu berkeliling tempat ini” lanjutnya.

Minjung kembali mengangguk “Tentu saja Sunbae” ucapnya seraya mengikuti Sunbae pria yang sudah lebih dulu berjalan kearah pintu.

“Sampai bertemu besok Minjung-ssi” ucap pria yang berkacamata pada Minjung yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Minjung.

-oo-

“Jadi,kau akan bekerja di sana untuk satu minggu ke depan?” Tanya seorang gadis bernama Park Hye Joo–sahabat Minjung–sore hari saat Minjung meminta gadis itu menemaninya makan tteokpoki di pinggiran Dong daemun.

“Bukan bekerja,aku hanya belajar di sana,mengamati pergerakan angin dan lain-lain,kau tahu–tugas kuliah”

Hye Joo hanya ber’O’ ria seraya mengangguk sok mengerti “Pasti akan membosankan bekerja bersama para ahjussi” ucapnya dengan mulut penuh dengan tteokpoki yang entah berapa potong ia masukkan ke dalam mulutnya.

Minjung hanya melirik sahabatnya itu sekilas,menatap jijik pada Hye Joo “Apa kau sudah lama tidak makan kue beras ini?”

Hye Joo hanya memutar bola matanya malas”Jangan mengalihkan pembicaraan.”

Minjung mengambil tissue,membersihkan sekitar mulut,menghela nafas “Mungkin…” jawabnya seraya menaruh dagu pada tangan yang menumpu di atas meja.

“Heh?mungkin?”

Minjung menoleh,menatap lama sahabatnya itu.Membuatnya mendapat tatapan aneh dari sahabatnya.

“Setidaknya aku akan berusaha,kau tahu kan impianku–”

” –menjadi seorang ahli cuaca yang hebat.Arra-yo” ucap Hye Joo cepat memotong ucapan Minjung.

“Nah…itu kau tahu” ucap Minjung seraya terkekeh pelan.

Hye Joo kembali memutar bola matanya malas “Ck!!setidaknya kalau kau bosan kau tahu harus kemana” ucapnya seraya menyesap jus jeruk.

Minjung menganguk “Hmm…”

-oo-

Kang Minjung menatap penampilannya hari itu di cermin besar yang berada di dalam kamarnya.

Seragam kuliah yang selalu di kenakannya hamoir 4 tahun itu terlihat pas di badannya yang ramping.Menatap seragam berwarna biru laut dan celana kain biru malam itu lumayan lama sebelum akhirmya ia berpaling,menyambar tas selempang berwarna coklat dari atas tempat tidur.

Ini hari pertamanya melakukan riset di kantor pusat Badan Cuaca Nasional Seoul.Menyemangati diri sendiri  bahwa ia bisa melakukan semua ini,meski hanya ia satu-satunya wanita disana.

-oo-

Minjung terlihat  mengangguk-anggukan kepala seraya mencatat beberapa hal yang menurutnya penting di sebuah note kecil yang sejak tadi berada di tangannya.Sesekali menatap beberapa layar yang ada di ruangan dan kembali sibuk menulis.

“Nah,Minjung-ssi kau bisa mengamati apapun yang kau mau yang berhubungan dengan tugas kuliahmu” ucap seorang pria bernama Changmin–yang sejak tadi  menjelaskan alat-alat apa saja dan fungsi dari alat-alat cuaca yang ada di sana.

Minjung mengangguk dan membungkukkan badan,berterima kasih para pria bernama Changmin itu.

Menghela nafas sekilas,Minjung hanya berdiri disana untuk beberapa saat,melihat ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya berjalan kearah  dimana ia bisa mengamati curah hujan dan angin.

Minjung mengambil salah satu kursi,mengamati curah hujan yang ada di diagram dan layar.Awalnya ia agak bingung,namun setelah sedikit–bereksperimen mungkin,ia bisa menggunakan dan membaca diagram itu.Sesekali matanya sipitnya semakin mengecil mengamati tiap pergerakan angin di layar dan diagram–tidak mengerti kenapa polanya bisa tiba-tiba berubah.

Bingung,Minjung mencoba mencari bantuan dari salah satu pria di sana,pikirnya.

Mengerucutkan bibir,Minjung menghela nafas,menatap layar diagramnya dengan tatapn sedih.Sedih karena ia tidak mengerti,sedih karena tidak bisa bertanya.Kalau saja ia bekerja di sini ia mungkin tidak akan berpikir meminta bantuan,tapi–ayolah saat ini ia hanya seorang mahasiswi yang tengah melakukan riset–

“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya sebuah suara berat seorang pria,membuat Minjung sedikit–terkejut.

Minjung memutar kepala,menoleh ke arah suara.Mata bulan sabitnya sedikit melebar saat mendapati seorang pria dengan rambut coklat tua,dengan tingi sekitar 178 cm kini tengah tersenyum hangat padanya.Mambuatnya tampak–bersinar di mata Minjung.

Pria itu menggoyangkan tangannya di hadapan wajah Minjung karena Minjung sibuk–melamun–entahlah seolah jiwanya tidak berada disana saat ini.

Minjung mengerjap saat merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya pelan–seakan tersadar kembali ke dunia nyata.

Pria itu hanya tersenyum padanya kembali mulutnya ingin mengatakan  bahwa dia memang butuh bantuan,tapi apa yang terjadi?mulutnya terasa kering dan tidak ada sepatah kata pun yang bisa dia keluarkan dari dalam mulutnya.

Akhirnya dengan sedikit gugup,Minjung hanya bisa menunjuk diagram yang sejak tadi ia amati dengan telunjukknya–miris memang.

Pria itu mengikuti arah tangan Minjung dan tersenyum “Oh…diagram ini?kau pasti bingung kenapa pola nya bisa berubah?” tanyanya seraya mendekati diagram.

Minjung menelan ludah gugup dan mengangguk.

Dari sisi kanan sang pria,Minjung dapat melihat pria itu menjelaskannya,sesekali menunjuk diagram siklus angin dan hujan.

Diam-diam Minjung mengagumi pria ini–pria yang baru di temuinya hari ini.Tunggu kemana pria ini kemarin,saat ia mengenalkan dirinya?pikirnya.

Minjung masih sibuk mengagumi pria–tampan di sampingnya itu hingga tidak menyadari pria itu kini sudah berdiri tepat di hadapannya–tersenyum.

“Kau pasti siswi magang itu kan?” tanyanya kembali tersenyum ramah.Senyum yang diakui Minjung sangat manis.

Minjung baru akan membuka suara,namun mengurungkannya saat pria lain yang tadi–menjelaskan beberapa alat dan fungsinya kini sudah berdiri di antara Minjung dan pria yang baru saja membantunya.

“Ah…Junsu-ssi,kenalkan dia adalah Kang Minjung,siswi tingkat akhir di Seoul University,untuk beberapa hari ke depan dia akan berada di sini.”

Pria– tampan bernama Junsu  itu hanya mengangguk.Dia tampak mengulurkan tangan pada Minjung.

“Annyeong haseyo Kang MInjung-ssi,aku Kim Junsu” ucapnya.

“Kang Minjung,mohon bantuannya Sunbae-nim” jawab Minjung seraya menerima uluran tangan Kim Junsu dan membungkuk.

“Kheunde,kenapa saya tidak melihat Sunbae kemarin?”

Kim Junsu hanya tertawa “Kemarin aku mengambil cuit karena ada sesuatu yang harus ku urus”

Minjung hanya ber”Oh” ria seraya mengangguk dan tersenyum–malu?

-oo-

Hari ke  4 Minjung semakin bersemangat melakukan risetnya di Badan Cuaca Nasional Seoul,apalagi sejak ‘you-know’ pria bernama Kim Junsu yang ternayata ada di bagian pengamatan curah hujan dan angin.Ini seperti takdir,pikirnya.

Pria bernama Kim Junsu itu selalu membantu Minjung kapanpun Minjung minta,sikapnya yang terlalu baik membuat Minjung semakin menyukai pria itu.

Siang ini,mereka kembali sibuk berdiskusi tentang curah hujan yang tidak merata di beberapa daerah di Korea.Hingga hal yang di luar dugaan terjadi.Tangan Junsu tanpa sengaja menyentuh tangan Minjung–membuat gadis itu–tersipu.Wajahnya entah kenapa tiba-tiba memerah karena sebuah sentuhan–tanpa sengaja di tangannya.

Pipi Minjung semakin bersemu saat tanpa disadarinya pria itu kini tengah manatapnya lama.Membuat Minjung menatapnya penuh tanya.

Seolah tahu arti dari tatapan Minjung,Junsu mengusak lembut surai coklatnya “Kau mirip seseorang yang ku kenal”ucapnya tersenyum lembut seraya berjalan pergi dengan tangan kanan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.

Minjung menekan dada nya yang serasa akan meledak karena bahagia.Menggigit bibirnya kuat-kuat agar ia tidak berteriak sekarang.Karena sungguh,ia berada dalam ruangan yang isinya pria dan dia tidak mungkin berteriak senang disini karena pasti akan di tatap aneh oleh para pria itu.

-oo-

Sudah hampir satu minggu Minjung melakukan risetnya di pusat Badan Cuaca Nasional Seoul.Gadis itu tampak semakin bersemangat setiap harinya.

Sore ini dia akan bertemu dengan salah satu sahabatnya di sebuah café.Gadis itu terlalu sibuk tersenyum sendiri hingga tidak menyadari Park Hye Joo–sahabatnya itu kini sudah duduk tepat di hadapannya–menatapnya dengan alis terangkat–bingung.

“Ya!!nalssi yeoja” panggil Hye Joo menepuk lengan Minjung yang berada di atas meja,membuat sahabatnya itu terkejut.

Minjung memutar bola matanya”Bisakah kau tidak memangilku seperti itu?”ucapnya kesal,mendelik menatap sahabatnya yang hanya mengangka ke dua bahunya acuh.

“Kau memang gadis cuaca dan itu kenyataan,bukankah setiap kali jalan kau akan selalu bicara tentang cuaca padaku,huh”ucap Hye Joo setengah mencibir.

Minjung hanya mendecakkan lidah”Karena aku sedang bahagia hari ini,aku ijinkan kau memanggilku dengan apapun yang kau mau,jadi aku tidak akan marah.”

Hye Joo menatapnya curiga “Apa yang terjadi padamu beberapa hari ini,huh?”

Minjung,entah kenapa tiba-tiba tersipu malu dan menundukkan kepala–tipikal orang yang sedang jatuh cinta–mungkin.

“I’m falling in love Hye Joo-ya”teriaknya lantang langsung memeluk erat leher sahabatnya itu,menghiraukan tatapan orang-orang yang menatapnya aneh.

“Ya!!nalssi yeoja!!huffhh…Ya!!lepaskan,aku tidak bisa bernafas” erang Hye Joo berusaha melepaskan tangan Minjung yang terasa mencekik lehernya.

“Oh…miahe Joo-ya”ucap Minjung saat sadar bahwa sahabatnya itu hampir tercekik karena pelukannya yang terlampau erat.Melepaskan tangannya dari leher Hye Joo.

Hye Joo terbatuk-batuk,menstabilkan nafasnya karena kesulitan bernafas–di peluk Minjung–mwnghirup udara sebanyak-banyaknya.

”Apa maksudmu dengan ‘kau jatuh cinta’?”

Minjung tersenyum lebar”jatuh cinta,kau tahu kan–sepasang kekasih–saling mencintai”

Hye Joo menaikkan alis bingung”jatuh cinta beneran?maksud ku ‘you-know-what-I-mean’”

Minjung memutar bola matanya “Kali ini aku benar-benar jatuh cinta Hye Joo-ya,kenapa kau terkesan tidak mempercayaiku,huh?”ucap Minjung sedikit kesal.

Hye Joo mengangkat bahunya “Kau terlalu sering jatuh cinta–sekedar kagum,satu minggu kemudian kau akan dengan mudahnya bilang kalau kau–jatuh cinta–lagi.Karena  demi Tuhan Kang Minjung,bagaimana aku tahu kau sedang ‘jatuh cinta beneran’ atau cuma–”

“–aku jatuh cinta kali ini benar adanya,pria ini adalah pria idamanku”ucap Minjung memotong ucapan Hye Joo.

“Well…semoga yang ini benar-benar-jatuh-cinta”ucap Hye Joo dengan penekanan di tiap kata yang di ucapkannya.

Minjung nyengir lebar “Kau tenang saja,kali ini aku yakin kalau dia adalah seoulmate ku” ucapnya mengangguk yakin–sangat yakin sepertinya.

“Berapa lama kau mengenalnya,huh? Tanya Hye Joo.

“huh?itu–beberapa hari yang lalu” jawab Minjung sedikit menerawang seraya menggaruk dagunya yang tidak gatal.

“Mworago?hanya beberapa hari dan kau bilang kau sudah jatuh cinta pada pria–entah siapa itu?” tanya Hye Joo melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

Minjung memutar bola matanya malas “Dia punya nama”

Dia kemudian hanya terkekeh melihat ekspresi sahabatnya “Eoh,ku rasa 3 atau 4 hari.Tapi bukan itu intinya,cinta itu datang tanpa di duga,seperti gempa yang tidak tahu kapan akan terjadi.Dia datang menggetarkan hati,membuat duniamu teras berbunga-bunga setiap kali kau berada di dekatnya.Merasakan detak jantung yang serasa akan melompat dari tempatnya jika kau di sentuh olehnya.Kau akan merasakan jutaan kupu-kupu beterbangan di dalam perutmu saat kau melihatnya tersenyum padamu,dan–“

“arraseo,now keumanhe”potong Hye Joo cepat,sungguh ia hanya tidak ingin Minjung bicara lagi,apalagi saol cuaca dan sekarang tentang cinta.Whatever,ia merasa pusing saat ini.

“Tapi kau akan segera pergi dari sana,karena kau hanya seminggu disana.bagaimana kau akan bertemu dengannya lagi?” tanya Hye Joo yang sukses membuat wajah berbinar bahagia Minjung pudar seketika.

Minjung menundukkan kepalanya dalam dengan bibir yang melengkung ke bawah.

Melihat sahabatnya sedih Hye Joo menepuk pundak Minjung,merasa tidak enak karena telah membuat sahabatnya itu murung”Gwemchana,kau bisa minta nomor ponselnya kan nanti,jadi kalian bisa saling bertukar kabar meskipun kau sudah tidak disana lagi”

Minjung mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk tadi,tersenyum hangat “Tentu saja”ucapnya singkat “Kau memang yang terbaik Hye Joo-ya” lanjutnya seraya memeluk sahabatnya itu.

Hye Joo hanya mengangguk seraya mengelus pundak Minjung lembut,dalam hati ia berdo’a semoga saja sahabatnya ini benar-benar menemukan seoulmate seperti yang dikatakannya,tidak lagi cinta sesaat atau rasa kagum pada orang lain.

-oo-

Minjung menatap sayu ruangan besar dengan berbagai alat canggih cuaca itu dengan tatapan sedih.Ingin menangis rasanya karena ia akan meninggalkan tempat itu besok pagi.Dalam hati ingin mengatakan kalau ia sebenarnya tidak ingin pergi dari sana  dan kembali ke kampus.

Menghela nafas,Minjung berjalan ke tempat dimana ia sering duduk bersama–tunggu!!kemana Junsu?kenapa pria itu tidak terlihat sama sekali sejak tadi?

Menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal,Minjung mengangkat ke dua bahunya,mungkin pria itu sibuk di bagian lain kantor ini,pikirnya.

Sudah 30 menit sejak Minjung duduk di tempatnya,menggambar pola angin di kertas tugasnya,sesekali bertanya para Changmin–pria yang dulu menjelaskan alat-alat percuacaan di ruangan itu.

“Bukankah kau akan pergi besok?”tanya Changmin seraya membantunya menggambar beberapa pola pada kertas diagram Minjung.

Minjung mengangguk singkat”Ne” jawabnya.

“Bagaimana nanti sore setelah pulang dari sini kita ke karaoke dan makan-makan,yah…semacam pesta perpisahan untukmu.”

Minjung mendongak dari kertas yang di pegangnya”Huh?” ucapnya bingung.

Pria bernama Changmin itu tertawa melihat tampang Minjung yang bingung”Tentu saja,meskipun kau hanya satu minggu di sini kau sudah di anggap seperti karyawan di sini”

“Tapi…” ucap Minjung terlihat tidak enak.

“Tidak ada tapi,kau harus ikut,aku akan memberitahu yang lainnya” ucap Changmin seraya menepuk pundak Minjung “Nah…lihatlah kau sudah menyelesaikan separuh dari diagram ini” lanjutnya.

Minjung menatap kertas diagramnya dan tersenyum”Gamshamnida Sunbae-nim” ucapnya seraya membungkuk dalam.

Changmin hanya mengangguk dan kembali menepuk pundak Minjung seraya berjalan pergi”Semuanya,yang ada di sini,sore ini kita akan karaokean di tempat biasa,kita akan mengadakan pesta perpisahan untuk adik kecil kita Kang Minjung”teriaknya dan di sambut tepuk tangan oleh beberapa orang yang berada dalam ruangan itu.

Minjung hanya bisa membungkukkan badan dan berterima kasih.

“Kemana pria itu?”pikirnya”Ugh!!ada apa dengan pria itu?kemarin dia memintaku memanggilnya oppa,tapi apa? Dia sama sekali tidak terlihat hari ini?” Minjung mengerucutkan bibirnya kesal,sebenarnya ia ingin Junsu yang membantunya menyelesaikan diagram itu.

-oo-

Sore itu di sebuah tempat karaoke yang ada di Apgunjeong terdengar riuh rendah suara beberapa orang yang sedang asyik bernyanyi.Beberapa pria tengah bersulang soju.Disana hanya ada satu wanita yang duduk di pinggir sedikit malu-malu memakan beberapa cemilan yang di sediakan.

Kang Minjung–satu-satunya wanita yang berada dalam ruangan itu menghela nafas,melihat para Sunbae nya begitu bahagia dengan perpisahan ini.Sebegitu bahagianya kah mereka saat dia akan pergi?mereka pasti senang karena tidak akan ada lagi seorang anak perempuan yang mengganggu pekerjaan mereka,anak perempuan yang selalu sibuk bertanya ini dan itu pada mereka.

Minjung menggelengkan kepala keras,tidak mungkin para sunbae nya ini seperti itu kan?.Maka setelah menyesap jus jeruknya Minjung mendekat pada salah satu Sunbae yang mengenakan kacamata–Yoochun–bertanya kenapa Kim Junsu belum datang juga sampai sekarang.

Belum sempat Minjung bertanya,pintu ruangan mereka terbuka.Dari balik pintu nampak seorang pria dengan t-shirt V neck berwarna coklat masuk dengan senyum khasnya.

Pria–tampan(setidaknya ini menurut Minjung) beberapa kali membungkuk meminta maaf karena dia telat datang.

Yang lain hanya tertawa dan mengatakan tidak apa-apa,tapi mereka minta agar Junsu meminta maaf pada Minjung karena gadis itu hanya diam saja dari tadi–sangat terlihat kalau dia menantikan Junsu.

Kim Junsu mengangguk dan berjalan ke arah dimana Minjung berada.

“Mianhe,aku seharian ini menghilang.Apa kau khawatir padaku”

Minjung hanya mengangguk pelan.

“Aku harus menjaga Sera,karena dari kemarin anak itu demam”

Minjung menaikkan alis bingung.Gadis berambut coklat sebahu itu hanya menatap Junsu lama seolah bertanya ‘siapa-sera-itu’.

Junsu tertawa”Oh…mian,oppa lupa mengatakan kalau Sera adalah putri ku yang berumur 7tahun” ucap Junsu menjelaskan.

Kang Minjung?jangan di tanya lagi.Gadis manis yang mempunyai impian menjadi ahli Meteorologi itu langsung membeku di tempatnya–terlalu terkejut dengan semua yang di dengarnya.Jantungnya serasa berhenti.Tangannya sedingin es.Bibirnya bergetar menahan sesuatu yang hendak melesak keluar dari sudut matanya.

Melihat Minjung hanya diam dan masih terus menatapnya tanpa berkedip,membuat Junsu menatapnya khawatir,mulutnya baru akan menanyakan apa yang terjadi pada gadis itu,namun mengurungkannya saat mendengar Minjung bertanya.

“Kapan–“Minjung menghela nafas,bibirnya bergetar”Kapan Sunbae menikah?kenapa aku tidak pernah melihatmu mengenakan cincin pernikahan?” lanjutnya seraya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat–menahan diri agar tidak menangis.

“Itu…sudah 5 tahun yang lalu,oppa mianhe Minjung-ah,aku memang tidak suka membicarakan tentang kehidupan pribadi pada orang lain.Dan…soal cincin pernikahan yang tidak pernah ku kenakan itu Karena aku–menjualnya” Junsu tertawa terlihat bahagia saat ia menceritakannya–sekali lagi membuat Minjung yang melihatnya menggigit bibir bawahnya–sakit “Apa kau ingat aku pernah mengatakan kau begitu mirip seseorang”lanjutnya.

Minjung hanya diam mendengarnya,dia ingin sekali menggelengkan kepalanya–mengatakan kalau dia tidak ingin–tidak ingin mengingatnya lagi–tapi apa?gadis manis itu hanya diam dan terus menatap Junsu dengan menggigit bagian dalam pipinya.

“Kau…mengingatkanku pada Soo Jung–istriku,dulu sebelum menikah–“

“Keumanhe Sunbae-nim”ucap Minjung,tidak ingin  mendengar lagi karena semua teras sakit baginya.Dia baru saja jatuh cinta untuk pertama kali.Mungkin Hye Joo benar,seharusnya dia tidak boleh terlalu cepat jatuh cinta karena jatuh cinta dan sakit hati di saat bersamaan terasa sangat menyakitkan,bagai berdarah-darah rasanya.Bagai terhempas dari tempat yang sangat tinggi–sakit.

Karena tidak kuat menahan semua sakit hatinya Minjung mohon pamit pada semua sunbae yang selama satu minggu ini sudah membantunya–termasuk Kim Junsu.Maka setelah membungkuk hormat dan menghiraukan tatapan penuh tanya Junsu,Minjung pamit pergi meninggalkan ruangan itu.

-oo-

Park Hye Joo menggerutu kesal pada orang yang sejak tadi mengetuk pintu rumahnya dengan tidak sabaran.Gadis itu berjanji akan memarahi siapa aja orang di balik pintu itu,orang yang telah menganggu kenyamanannya berguling di tempat tidur.Hell…apakah orang ini terlahir menjadi orang yang tidak sabaran?pikirnya.

“Chankaman” teriaknya pada pintu kayu yang terus di ketuk tidak sabaran itu.

Hye Joo membelalak lebar saat mendapati siapa orang yang sejak tadi mengetuk pintu.Semua makian yang akan di keluarkannya saat ia membuka membuka pintu kini hilang entah kemana?

Kang Minjung–sahabatnya,berdiri di depan pintu rumahnya dengan air mata yang terus keluar dari mata bulan sabitnya(yang jujur membuat Hye Joo merasakan sedih) saat melihatnya.

“Hye Joo-ya” pekiknya menangis kencang seraya memeluk Hye Joo.

“Apa yang terjadi,huh?” tanya Hye Joo seraya menpuk punggung sahabatnya.

Minjung tidak bicara sama sekali,gadis itu terus menangis histeris sambil sesekali terdengar bergumam.

Hye Joo,gadis berambut milky brown itu hanya bisa menghela nafas dan mengelus pelan punggung Minjung,membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.Sungguh Hye Joo penasaran ada apa dengan sahabatnya ini?.

-oo-

Minjung meminum coklat hangat yang di berikan Hye Joo,sesekali menyeka ke dua matanya yang berair dengan tissue.Di sampingnya–Hye Joo hanya diam menatapnya–menunggu penjelasan dari Minjung.

Setelah menghembuskan nafas Minjung akhirnya bicara”Aku patah hati oleh orang yang ku kira seoulmate ku.Dia sudah menikah dan mempunyai anak” ucapnya pelan seraya menundukkan kepala nya dalam.

Lama mereka berdua hanya diam,hingga Minjung mendengar suara tawa.Minjung mengangkat kepala dan melotot saat melihat sahabatnya itu–tertawa?apa ada yang lucu?pikirnya.

“Ya!neo juglae” ucap Minjung kesal,karena demi Tuhan sahabatnya yang aneh ini malah menertawakannya.?

“Hahaha…Mian,mian” ucap Hye Joo seraya menyapu airmata yang keluar dari sudut matanya karena banyak tertawa.

“Ahahahaha…aduh…aduh…kau tahu kenapa aku malah tertawa?”

Minjung hanya memberikan death glare pada Hye Joo “Keumanhe”

“Oke…oke” ucap Hye Joo mengangkat tangan di depan dada “Tapi…serius?kau patah hati setelah kemarin kau mengatakan kalau kau sedang jatuh cinta” lanjutnya kembali tertawa terbahak-bahak.

“Daebak!!! Harusnya kau masuk guines world book of record” ucapnya seraya memegang perutnya yang sakit karena terus tertawa dari tadi.

Minjung mendecak kesal,melempar bantal kursi tepat di wajah Hye Joo”Ya!!kenapa kau semakin membuatku kesal?kau harusnya menghiburku karena aku sedang patah hati”ucap Minjung mendengus kesal.

“Huh?ne…arraseo” ucap Hye Joo kembali tertawa “Kau tahu,kau adalah orang pertama yang dengan cepat jatuh cinta dan patah hati kemudian”lanjutnya.

Minjung hanya mendengus kesal mendengarnya”Keumanhe,apa kau bahagia melihat sahabatmu sendiri seperti ini,huh?aku tahu aku salah karena terlalu cepat jatuh cinta hanya karena perhatian yang di berikannya.”

Hye Joo menepuk pundak Minjung(sepertinya gadis ini sudah tidak menertawakan sahabatnya lagi) “Setidaknya ini bagus untukmu” ucapnya sok bijak.

Minjung menoleh,menatap heran sahabatnya yang tadi menertawakannya sekarang malah berkata sok bijak padanya.

Hye Joo yang di tatap hanya memutar bola matanya malas “Jangan menatapku seperti itu.Kau seharusnya bersyukur mengetahui semuanya saat kau tidak terlalu dalam mencintainya.Kau harusnya bersyukur karena kau tahu lebih awal,sebelum kau merasa tidak bisa lepas darinya.”

Minjung hanya mengerjap sekali dua kali–tampak merenung “Mungkin Hye Joo benar,dia seharusnya bersyukur tidak terlalu mencintai pria itu–Kim Junsu(ugh!!mengucapkan namanya saja sudah membuat hatinya sakit)” pikirnya.

“Kau benar Hye Joo-ya,aku seharusnya bersyukur karena mungkin saja ini–hanya rasa kagum akan seseorang”

Hye Joo mengangguk setuju”Nah…apa kau sekarang sudah merasa baikan?aku yakin kau akan dengan sangat mudah move on” ucapnya seraya terkekeh.

Minjung akhirnya tersenyum dan mengangguk “Gomawo Hye joo-ya,kau selalu ada untukku” ucapnya kembali memeluk Hye Joo “Dan…ku rasa aku memang pantas untuk di tertawakan karena kebodohanku” lanjutnya terkekeh.

Hye Joo menggeleng pelan”Anio,kau hanya belum beruntung,suatu hari nanti aku yakin kau akan mendapat yang terbaik.”

Minjung tersenyum seraya mengangguk “Sekarang kau harus menghiburku”ucapnya menyeringai jahil.

Hye Joo mengangguk “Baiklah,tapi…ijinkan aku tertawa sekali lagi” ucapnya kembali tertawa terbahak-bahak.

Kesal,Minjung mencubit pinggul Hye Joo,membuat sahabatnya itu mengerang sakit.

“Ya!!nalssi yeoja,neo juglae”pekiknya mencoba melepaskan tangan Minjung yang kini–bergerak liar di pinggul–bersiap menggelitik.

“Ahahaha…ya keumanhe.Arraseo,arraseo,aku akan berhenti tertawa.Ku mohon jangan lakukan ini lagi pada pinggulku yang malang” ucap Hye Joo mendramatisir.

Minjung mendelik dan melepas tangannya dari pinggul Hye Joo “Cepat ganti baju,temani aku akan tteokpoki”ucapnya seraya mendorong tubuh Hye Joo memasuki kamar.

Maka setelah Hye Joo masuk kamar,Kang Minjung–nalssi yeoja itu menghela nafas berat,tersenyum getir”Aku memang menyedihkan”gumamnya pelan “Hhhhaaahhh…aku harus berubah–“lanjutnya seraya menengadah,menatap langit sore yang tampak mendung”Bahkan cuaca pun sama suramnya seperti suasana hati ku.”

-oo-

Minjung menyelesaikan diagram pergerakan angin dan curah hujan miliknya dengan cepat.

Hari itu pada hari terakhir dia berada disana,dia menyelesaikan semua pekerjaanya dengan cepat–sempat merasa awkward saat tanpa sengaja matanya menatap Kim Junsu,namun Minjung hanya tersenyum lembut seperti biasa pada seniornya yang sudah membantunya selama satu minggu ini.

Sebisa mungkin Minjung menghindari pria itu–Kim Junsu.Dia bahkan meminta Changmin Sunbae yang memeriksa pekerjaanya–bukan minta pada Junsu seperti yang selalu di lakukan beberapa hari terakhir.

“Sampai jumpa lagi,terima kasih sudah mau membantu saya selama satu minggu ini”ucap Minjung seraya membungkukkan badannya dalam.Tersenyum pada mereka yang berada di ruangan itu.

Sebelum benar-benar pergi dari sana,sekali lagi dia membungkuk sebelum akhirnya berpaling dan keluar ruangan dengan langkah lebar.Dia tidak akan melupakan semua yang dialaminya di sini,punya pengalaan langsung bagaimana mengawasi cuaca di salah satu pusat Badan cuaca terkenal di Seoul.Selain mendapatkan ilmu,dia juga belajar bagaimana harus menyikapi setiap perlakuan dan perhatian orang lain padanya.Belajar bagaimana caranya berlapang dada dan tidak dengan begitu mudah mengambil keputusan dan mengatakan kalau dia ‘Jatuh cinta’.

END

.

.

.

 

“Kang Minjung” panggil sebuah suara,membuat Minjung yang baru saja akan masuk ke dalam lif menghentikan langkahnya.

Kim Junsu–cinta sesaat Minjung tampak berlari kecil ke arahnya.Pria itu terlihat mengatur nafanya yang terlihat ngos-ngosan–terlalu jauh berlari,mungkin.Sungguh Minjung tidak ingin memikirkan kenapa pria ini berlari hingga di sini hanya untuk mengerjarnya.

“Apa kau marah padaku?” tanya Junsu saat ia sudah bisa menormalkan nafas.

Minjung hanya diam –tidak menjawab–menatap pria yang pernah singgah di hatinya itu dengan heran.

“Kenapa kau langsung pergi saat acara perpisahanmu kemarin,huh?apa oppa melakukan sesuatu yang membuatmu kesal,huh?”

Minjung hanya tersenyum dan menggeleng pelan”Anio”jawabnya singkat.

“Lalu…kenapa kau terlihat menghindariku hari ini?”

“Aku tidak menghindari Sunbae,apa Sunbae tidak melihat kalau hari ini hari terakhirku–“Minjung menghentikan ucapannya,diam beberapa detik “–gomawo-yo Sunbae-nim”lanjutnya seraya menekan tombol lift,dan sebelum pintu lift benar-benar tertutup Minjung membungkuk seraya tersenyum”Semoga kau bahagia”gumamnya pelan,meninggalkan Kim Junsu yang menatap kepergiannya penuh tanya.

An :

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata seorang teman.So buat yang merasa ini mirip dengan apa yang dialaminya dulu “PLEASE DON’T BLAME ME” WKWKWK….

Maaf kalau istilah cuacanya ga begitu ada,dan juga berhubung saya ga tau apa nama badan cuaca di Korea jadi saya ngarang aja,lol.Istilah cuaca yang saya tau Cuma “Bergeron findesen process ato proses terbentuknya salju” lainnya saya malas nyari dan sempat pusing pas browsing ‘-‘

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s