Be My Girl (Chapter 3 -End-)

jaeyeon

Summary :
Riyeon sangat menyukai musim salju.Apapun yang berbau salju atau dingin ia menyukainya.JaeJoong menyukai gadis yang berdiri dalam salju,bahkan menyukai kebiasaan gadis yang memakan patbingsu di musim salju yang dingin.

.

.

.

“No other one can have you
I want you to myself
My heart is open for you
all life long”
(Be My Girl – JYJ)

.

.

.

‘Kata orang cinta itu turun dari mata ke hati’ Apa itu benar? Tentu saja itu benar adanya bagi sebagian orang yang pernah mengalaminya.Tidak terkecuali pada seseorang bernama Kim Jaejoong.Ia jatuh hati pada seorang yeoja yang berdiri di tengah salju dengan wajah berseri.

.

.

.

Jaejoong menghempaskan tubuh kurusnya pada tempat tidur.Menaruh satu tangannya sebagai penyangga kepalanya,sedangkan tangan satunya ia biarkan tergelak di atas perutnya,menatap langit-langit kamarnya yang berwarna cream.Tersenyum mengingat kejadian satu minggu yang lalu di sebuah kedai patbingsu di kawasan Dongdaemun.

Jaejoong tertawa “Bagaimana bisa ada orang yang makan patbingsu di musim dingin?” Gumamnya kembali tertawa pelan “Gadis yang menarik dan manis” lanjutnya.

Namja bersurai pirang itu tiba-tiba terbangun seperti mengingat sesuatu.Dengan satu gerakan cepat ia menyambar coat coklat yang tadi tergeletak dengan manis di atas tempat tidur.Mengenakannya dengan terburu-buru seraya keluar kamar,menyambar kunci mobil yang berada di atas meja di dekat pintu dorm.Menghiraukan teriakan Yoochun yang bertanya kemana ia pergi malam-malam begini,pergi melesat menuju tempat parkir.

Jaejoong tersenyum,mengingat perkataan seorang yeoja yang bersama Riyeon hari itu.Yeoja dengan nama—Hyo…Yo…Hyonie?Ahh..benar itu namanya.Bukankah Hyonie mengatakan Riyeon bisa di temui di butik yang bernama ‘Angel Without Wing’ yang berada di—Gangnam? Sebuah senyum semakin terkembang saat ia meyakini apa yang baru saja di pikirkannya.

-oo-

Shin Riyeon masih berada di butik kesayangannya.Yeoja yang hari itu mengenakan blouse grey dan rok hitam bermotif bunga-bunga putih di pinggirannya itu tampak sangat menikmati potongan buah-buahan dingin yang tersaji di hadapannya.Sekilas melirik beberapa pelanggan yang masih berada di dalam butiknya untuk membeli atau hanya sekedar melihat-lihat.Ia terlihat duduk di ruangannya.Duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut,sesekali tertawa melihat ponselnya.Riyeon bahkan tidak bisa menghilangkan tawanya saat sebuah pesan masuk di dengan kata ‘Apa kau tahu harga buah pir sekarang?dan ku harap kau tidak kaget karena kau tahu?harganya sangat mahal dan itu membuatku mengurungkan niatku untuk membelinya’ sebuah pesan dari Hyonie itu hanya membuatnya tertawa dan menggelengkan kepala secara bersamaan.

Kegiatan Riyeon sehari-hari atau lebih tepatnya sudah menjadi kewajibannya,membalas pesan apapun yang masuk dari sahabatnya.Mereka membicarakan apa saja,mulai dari makanan,sayur,harga-harga yang melambung tingga dan banyak lagi lainnya (terkadang mereka terlihat seperti ibu-ibu yang sibuk mengeluhkan harga naik).

Setelah membalas isi pesan,Riyeon melihat ke arah mangkuk yang kini sudah kosong.Ia tersenyum pelan dan mengangkat mangkuk yang tadi penuh dengan irisan buah-buahan itu kini sudah kosong,membawanya keluar ruangan dengan maksud mencuci mangkuk di pantry kecil yang berada di butiknya.

Riyeon baru saja menutup pintu ruangannya dan berpaling saat manik hitamnya menangkap sosok namja yang sangat di kenalnya (Atau sebut saja ia baru berkenalan dengannya beberapa minggu yang lalu itu) membuatnya yang hendak menuju pantry mengurungkan niat.Menatap sosok namja dengan coat coklat di dalam butiknya itu tanpa berkedip dan tanpa sadar sebuah senyum terukir dibibirnya yang mungil.

Riyeon masih setia berdiri di depan ruangannya dengan tangan kanan yang masih memegang mangkuk,hingga kini namja itu—Kim Jaejoong kini tengah melihat ke arahnya,menatapnya dan tersenyum.Membuat Riyeon yang mendapatkan senyum itu merasa tubuhnya mulai memanas (dan ia yakin bahwa pipinya bersemu merah)gugup Riyeon berdehem dan berjalan ke arah pantry tanpa tahu Jaejoong yang menatapnya penuh arti.

-oo-

Riyeon menghembuskan nafas,tersenyum menatap butiran salju yang turun malam itu.Yeoja itu punya kebiasaan menengadahkan tangan mencoba menangkap butiran salju yang turun.

“Apa itu merupakan kebiasaanmu Riyeon-ssi?” Tanya sebuah suara namja yang sontak membuat Riyeon mencari sumber suara.

Riyeon melihat ke sekeliling,dan—disana di ujung jalan tepatnya di samping sebuah kotak pos berwarna hijau yang berada tepat di sudut kanan butik.Riyeon menyipitkan mata melihat sosok namja yang saat ini tengah melangkah mendekatinya.Matanya sipitnya melebar,membeku seketika saat wajah namja itu terkena cahaya lampu jalan.

“Jaejoong-ssi?” Ucap Riyeon pelan.

Namja itu dengan santai berjalan semakin dekat padanya,dengan ke dua tangan yang ia masukkan ke dalam saku terus mendekat hingga kini sudah berdiri tepat di hadapan Riyeon dengan sebuah senyuman pastinya.

“Eerr…kau belum pulang?bukankah ini—” Riyeon menghentikan kalimatnya,merogoh saku coat abu-abunya mengeluarkan ponsel berwarna hitam “—pukul 10 malam” lanjutnya kemudian kembali menatap Jaejoong.

Jaejoong hanya tersenyum “Seharusnya aku memang sudah berada di dorm saat ini,tapi…” Jaejoong menghentikan kalimatnya,melirik Riyeon yang ada di hadapannya “Entahlah?” Lanjutnya seraya menaikkan ke dua bahunya.

“Eh?” Ucap Riyeon spontan,wajahnya yang sebagian tertutup syal itu terlihat bingung.

Jaejoong hanya terkekeh pelan. Namja itu malah semakin mendekat,mempersempit jarak diantara mereka berdua,memajukan wajahnya hingga ketelinga Riyeon,membuat yeoja itu memundurkan sedikit kepalanya kebelakang “Aku sedang menunggu seseorang disini,dan—aku beruntung,karena aku kembali melihatnya tersenyum cerah di cuaca dingin seperti ini” ucap Jaejoong tepat di telinga Riyeon.

Riyeon dapat merasakan hembusan nafas Jaejoong di kulit lehernya,membuat jantungnya berdegup dua kali lipat dari biasanya,dan perutnya mulai melilit karena merasa kupu-kupu mulai bertebangan disana.

“Oh” hanya itu yang mampu keluar dari mulut Riyeon.

Jaejoong menarik wajahnya dan menyeringai “Mau ku antar pulang?” Tanyanya.

Riyeon hanya mengerjap sekali,dua kali sebelum akhirnya bersuara “Oh..tentu saja,jika kau tidak keberatan,karena mengingat—terlalu malam dan—jangan salahkan aku jika kau bangun ke siangan esok hari”

Jaejoong memutar bola matanya”Oh..Ayolah apa kau pikir aku tidak pernah tidur lebih dari jam 10 malam?” Ucap Jaejoong .

Riyeon hanya terkekeh pelan “Aku tahu,kau seorang super star,tidur jam berapa pun tidak akan jadi masalah buatmu,rite?”

Jaejoong hanya tertawa mendengar penuturan Riyeon barusan “Aku tahu kau adalah fans beratku” ucapnya terkekeh pelan dan harus mendapatkan sebuah pukulan di pundaknya.

Riyeon mendengus kesal.Kesal karena Jaejoong tahu kalau ia adalah fans berat seorang Kim Jaejoong.Kesal karena berdekatan dengan Jaejoong membuat jantungnya tidak bisa berhenti berdetak kencang.Kesal karena saat ini ia yakin pipinya pasti sudah bersemu merah muda (Thank God Riyeon sekarang mengenakan syal yang menutupi sebagian wajahnya,membuatnya bisa menyembunyikan semburat merah yang terus menjalari pipi chubby nya).

“Gaja” ucap Jaejoong,membuyarkan lamunan Riyeon,menatap lengan Jaejoong yang terulur padanya.

Sekian menit Riyeon hanya memandangi tangan putih Jaejoong yang terulur,terlihat ragu sekilas sebelum ia benar-benar mengulurkan tangannya Jaejoong sudah menangkap tangannya dan menyeretnya ke ujung jalan dimana mobil sport silver miliknya terparkir disana.

-oo-

“Kenapa kau sangat menyukai salju?” Tanya Jaejoong setelah mereka berada di mobil.

“Eoh?itu…” Riyeon tampak ragu sekilas sebelum akhirnya tersenyum,senyum yang sangat manis yang pernah di lihat Jaejoong.

“Apa kau tahu proses terbentuknya salju? Salju terbentuk karena adanya proses kristal es yang biasa di debut dengan ‘Bergeron Findence Process’ dan kalau mengingat kata es,aku jadi ingin makan patbingsu lagi” ucap Riyeon terkekeh pelan “—apa aku harus mengajak Hyonie unnie lagi” gumamnya seraya mengangguk menaruh jari telunjuknya di dagu seperti tengah memikirkan sesuatu.Menggelengkan kepalanya dengan keras “Ugh!!ia pasti akan menceramahiku panjang lebar”

Jaejoong yang masih mengemudi hanya terkekeh mendengar yeoja di sampingnya ini,terlihat sibuk dengan dunianya sendiri.

“Kau bisa mengajakku” ucap Jaejoong menoleh sekilas sebelum kembali memperhatikan jalan.

“Benarkah?kau yakin?” Tanya Riyeon antusias dengan mata berbinar ,namun hanya berlangsung sekejap,karena detik berikutnya ia tampak menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil seraya menundukkan kepala “Kau pasti menganggapku aneh” ucapnya pelan “Lagipula mana ada orang yang makan patbingsu di musim dingin seperti ini” lanjutnya.

“Tidak,aku tidak menganggapmu aneh,kau hanya—unik” ucap Jaejoong tanpa menoleh ke arah Riyeon.

Jaejoong berdehem sekilas “Aku menyukaimu saat pertama kali melihatmu berdiri di tengah salju dengan wajah berseri menatap butiran salju yang turun.Dan aku juga suka saat melihatmu menyantap satu mangkuk patbingsu dengan wajah berbinar,seolah patbingsu adalah makanan ternikmat di dunia” ucap Jaejoong panjang lebar kembali tanpa menoleh menatap Riyeon karena ia kini tengah sibuk memperhatikan jalan.

Tidak menyadari perubahan wajah Riyeon yang semakin terlihat seperti kepiting rebus saat mendengar perkataannya.

Apakah itu sebuah pengakuan cinta?

Entahlah? Riyeon berharap itu sebuah pengakuan.

Riyeon hanya berdehem sebelum memalingkan wajah ke luar jendela,menatap jalanan yang malam itu lagi-lagi di turuni salju.Sibuk menata degup jantungnya yang terasa mau melompat dari rongganya.

Dan sisa perjalanan itu di isi oleh keheningan di antara Jaejoong dan Riyeon.Mereka tampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

.

.

.

Kim Jaejoong
“Melihatmu berdiri di tengah salju saat memandangi salju membuatku merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadaku.Shin Riyeon namamu,seorang yeoja yang sudah membuatku menyukai salju karena setiap melihat salju turun aku akan mengingatmu yang menjulurkan tangan mencoba menangkap butiran salju.Apakah ini cinta? Dan jawabannya adalah ‘Iya’ ini cinta,aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu di tengah salju hari itu.

.

.

.

Shin Riyeon
“Apakah salah jika aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari perkataanya barusan?Aku—merasa beribu kupu-kupu beterbangan di dalam perutku.Sebuah rasa yang tak bernama menyusup hangat ke dalam hatiku.Cinta? I hope it will come true.”

-END-

An:

Ahaha…tertawa puas,akhirnya kelar,meskipun sekidit…err…gantung,haha…
The last i hope someone love this story,sorry if i made this like..eerr..weird maybe ㅋㅋㅋㅋㅋ please don’t blame me😄

4 thoughts on “Be My Girl (Chapter 3 -End-)

  1. its soooo cuteeee… reaalllyy cuteee storyy.. i likeee ittt so much.. please jgn smpe ad bibir nemu bibir yak.. cukup bibir nyentuh jidat az spy fluffyy gt hogooo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s